Archive for February, 2011

The burntdown of sass

There’s a gap in our horizon
No welcoming doormats
Swords are no pen and vice versa
So why those pages still burned to dust?

There’s fear in lonely caves
And who’s the cavemen?
The doors are shut and locked
Guarded by two smoking barrels
The windows are smashed
Thrown by stones of the stonehenges’ mind.

There’s a price for certainty in life
No thoughts, no dreams, turns are forbidden
And we learn as we get along
That no peace could stay for long.

**
–Udo. Late 2007–

Epilogue (Penutup)

–tulisan ke-4 dan terakhir dalam gelaran ‘A Few Nights with Ezra Pound’. Untuk tulisan 1 s/d 3 bisa dibaca di notes FB Udo Indra. Tulisan ini tidak disertakan di sana sebagai hasil kompromi dari sebuah dilema.–

“O chansons foregoing
You were a seven days wonder,
When you came out in the magazines
You created considerable stir in Chicago,…”

Kau pernah jadi kidung indah yang tak seorang pun menduga kehadirannya. Dulu kau sempat pula terhitung sebagai salah satu keajaiban dunia. Tampil dengan rupawan untuk sebuah perioda nan gemilang. Saat pertama kali wajahmu yang lugu muncul di beberapa media, semua ramai membicarakan. Teman-teman, baru dan lama, hadir dan menyalami tanganmu yang sempat gemetar menyambut semua. Kemudian lambat laun keluguanmu hilang dan kau mulai terbiasa menghadapi segala imbas kejayaanmu. Parasmu, luar dan dalam, perlahan mengeras.

“And now you are stale and worn out,
You’re a very depleted fashion,
A hoop-skirt, a calash,
An homely, transient antiquity…”

Namun lihatlah dirimu kini: seperti nasi basi yang ditinggalkan bahkan oleh kucing lapar. Semua kegilanganmu bagai lentera yang meredup, menjelang saat padam. Semua yang dulu menjabat akrab mulai pergi menghindar. Seperti tak pernah kenal sahaja. Mereka kini melihatmu seperti model busana tahun silam, tiada lagi yang mau memakai. Kau sudah jadi pakaian kisut yang siap dilempar ke panti sosial atau lapak baju di pasar bau. Begitu cepatnya perubahan, rutukmu, saat tempatmu di transportasi massa telah berpindah ke atap kereta. Semua orang melihatmu tak lebih dari sebuah kisah jaya sederhana di masa lalu yang hanya bertahan untuk sementara waktu.

“Only emotion remains.
Your emotions?
Are those of a maitre-de-cafe.”

Hanya pendaman emosi yang tersisa (pun tersia) pada dirimu kini. Tenaga batinmu terkuras untuk menerka-nerka: dari istana hantu mana sisa emosimu itu berasal? Sampai nyaris hampa. Daya hidupmu terhisap oleh kenangan mengenai gemebyar rutinitas yang telah silam. Meninggalkan geram tanpa redam. Menampuk dendam. Lantas kau coba lampiaskan semua itu dengan merajai waktu jeda di ragam resto dan kafe. Pada singgasana kulinaria kau berharap: agar semua kegelisahanmu tertutupi oleh timbunan lemak.

*puisi yang ditampilkan pada tulisan di atas adalah puisi karya Ezra Pound yang berjudul ‘Epilogue’. Tulisan singkat ini terinspirasi dan didasarkan pada puisi tersebut.*