Epilogue (Penutup)

–tulisan ke-4 dan terakhir dalam gelaran ‘A Few Nights with Ezra Pound’. Untuk tulisan 1 s/d 3 bisa dibaca di notes FB Udo Indra. Tulisan ini tidak disertakan di sana sebagai hasil kompromi dari sebuah dilema.–

“O chansons foregoing
You were a seven days wonder,
When you came out in the magazines
You created considerable stir in Chicago,…”

Kau pernah jadi kidung indah yang tak seorang pun menduga kehadirannya. Dulu kau sempat pula terhitung sebagai salah satu keajaiban dunia. Tampil dengan rupawan untuk sebuah perioda nan gemilang. Saat pertama kali wajahmu yang lugu muncul di beberapa media, semua ramai membicarakan. Teman-teman, baru dan lama, hadir dan menyalami tanganmu yang sempat gemetar menyambut semua. Kemudian lambat laun keluguanmu hilang dan kau mulai terbiasa menghadapi segala imbas kejayaanmu. Parasmu, luar dan dalam, perlahan mengeras.

“And now you are stale and worn out,
You’re a very depleted fashion,
A hoop-skirt, a calash,
An homely, transient antiquity…”

Namun lihatlah dirimu kini: seperti nasi basi yang ditinggalkan bahkan oleh kucing lapar. Semua kegilanganmu bagai lentera yang meredup, menjelang saat padam. Semua yang dulu menjabat akrab mulai pergi menghindar. Seperti tak pernah kenal sahaja. Mereka kini melihatmu seperti model busana tahun silam, tiada lagi yang mau memakai. Kau sudah jadi pakaian kisut yang siap dilempar ke panti sosial atau lapak baju di pasar bau. Begitu cepatnya perubahan, rutukmu, saat tempatmu di transportasi massa telah berpindah ke atap kereta. Semua orang melihatmu tak lebih dari sebuah kisah jaya sederhana di masa lalu yang hanya bertahan untuk sementara waktu.

“Only emotion remains.
Your emotions?
Are those of a maitre-de-cafe.”

Hanya pendaman emosi yang tersisa (pun tersia) pada dirimu kini. Tenaga batinmu terkuras untuk menerka-nerka: dari istana hantu mana sisa emosimu itu berasal? Sampai nyaris hampa. Daya hidupmu terhisap oleh kenangan mengenai gemebyar rutinitas yang telah silam. Meninggalkan geram tanpa redam. Menampuk dendam. Lantas kau coba lampiaskan semua itu dengan merajai waktu jeda di ragam resto dan kafe. Pada singgasana kulinaria kau berharap: agar semua kegelisahanmu tertutupi oleh timbunan lemak.

*puisi yang ditampilkan pada tulisan di atas adalah puisi karya Ezra Pound yang berjudul ‘Epilogue’. Tulisan singkat ini terinspirasi dan didasarkan pada puisi tersebut.*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: